Minggu, 10 Juli 2011

‘Ned Nefer’ Pria Yang Menikahi Patung Buatannya Sendiri


Pernikahan Ned Nefer, 38, dengan istrinya Teagan telah berjalan 25 tahun. Namun, pernikahan keduanya merupakan hal yang aneh, sebab sang istri ternyata sebuah patung wanita.
Ned bertemu Teagan saat tengah mengunjungi rumah masa kecilnya di panti asuhan Jefferson County Watertown, awal 1980-an. Ned jatuh cinta dengan patung berwujud kepala manusia itu.
Demi rasa cintanya, Ned lalu membuatkan badan untuk sang pujaan. Setelah tubuh patung sempurna, Ned menikahinya, pada 1986.
Pasangan kontroversial itu sangat senang bepergian bersama. Sekarang, mereka melakukan perjalanan dari Syracuse ke Watertown untuk memeringati ulang tahun perkawinan perak.
“Saya berharap tidak hujan, karena kalau itu terjadi, berarti hasil gambar dan video tidak bagus. Kami ingin berfoto di depan rumah tua di State Street tempat kami bertemu di masa kanak-kanak,” katanya tentang perjalanan mereka.
Ned mengatakan, ia membawa 16 kamera sekali pakai untuk mengambil gambar setiap tempat yang mereka kunjungi. Meliputi kota, desa, jalan terkenal hingga pemakaman. “Kami benar-benar mencintai alam bebas.”
Kisah cinta dan perjalanan pasangan ini diabadikan di sebuah akun Facebook ‘Syracuse Mannequin Man’. Petualangan pasangan ini mendapat banyak sambutan. Sebanyak 2.000 orang menjadi pengikut mereka. Beberapa video perjalanan mereka pun diposting diYouTube.

“Saya pernah mendengar halaman Facebook kami, dan itu luar biasa. Tapi kurasa, dialah yang benar-benar seorang bintang,” ucap Ned menunjuk ke Teagan dikutip dari Watertown Daily.

Secara klinis, Ned mungkin mengidap gangguan kejiwaan yang dikenal sebagai agalmatophilia, atau tertarik secara seksual pada manekin dan patung.

Pengidap agalmatiphilia lain adalah Dauveed. Pria asal Amerika Serikat ini nekat menggelar pernikahan dengan sebuah manekin berwujud wanita cantik pada 2009. Ia menyebut patung yang biasa digunakan untuk memajang baju di toko itu sebagai Clara.
Dauveed sengaja mengundang sejumlah media massa untuk menyaksikan pernikahan kontroversial itu. Upacara pernikahan itu bahkan sempat beredar di YouTube. [serbaneka]
Read more...

‘Micronecta Scholtzi’ Serangga Yang Dapat Bernyanyi Menggunakan Alat Kelaminnya

Serangga air tawar Micronecta Scholtzi punya keahlian langka. Serangga ini bisa bernyanyi dengan menggosokkan penisnya yang hanya setebal rambut manusia ke bagian abdomen lewat mekanisme yang disebut stridulasi.

serangga bernyanyi


"Nyanyian yang dihasilkan sangat keras sehingga orang yang berjalan di tepian sungai bisa mendengar serangga kecil ini bernyanyi dari dalam sungai," kata James Windmill dari University of Strathclyde, Glasgow.

Windmill yang terlibat penelitian ini mengaku kaget dengan temuannya. "Kami semula berpikir bahwa suara itu datang dari serangga air yang lebih besar, seperti dari spesies Sigara," ungkap Windmill.

Dikatakan, nyanyian yang dihasilkan bisa mencapai 99,2 desibel, setara dengan suara orkestra yang tampil di depan mata. Dengan melihat ukuran tubuhnya, maka serangga ini adalah hewan dengan suara terkeras di Bumi.


bernyanyi pakai penis


Windmill mengatakan, suara keras itu dipakai untuk menarik betina ketika hendak kawin. Tiap-tiap pejantan harus memproduksi suara sekeras mungkin agar bisa memenangkan kompetisi mendapatkan betina.

Tentang serangga yang bernyanyi dengan penis, Jerome Sueur dari Museum of National History Paris, mitra Windmill, mengatakan, setidaknya ada satu spesies serangga lain yang juga bernyanyi dengan alat genitalnya.

"Spesies ngengat, Syntonarcha iriasis, menggunakan alat genital yang telah termodifikasi sehingga bisa menghasilkan bunyi ultrasonik," kata Sueur seperti dikutip dari BBC News.

Sueur mengatakan, banyak serangga bisa menghasilkan suara dengan cara tak terduga, seperti memakai sayap, kaki, bahkan kepala. Namun, Micronecta scholtzi istimewa sebab menghasilkan suara dari bagian yang sangat kecil.

Saat ini, ilmuwan mengaku belum tahu faktor yang membuat suara Micronecta scholtzi bisa begitu keras. Kajian terhadap proses itu bisa bermanfaat untuk mengembangkan sistem ultrasonik di masa depan. [kumpulberita]
Read more...

‘Roda Falkirk’ Lift Putar Untuk Pengangkutan Kapal Laut Di Dunia

Salah satu metode untuk mengangkut kapal laut diantara dua ketinggian adalah dengan menggunakan lift yang mengangkat badan kapal laut dari satu jalur air ke jalur lain yang berbeda ketinggian.

Penggunaan Lift untuk kapal laut memang tidak umum, dan roda Falkirk, dekat kota Falkirk, adalah satu-satunya lift berputar untuk kapal laut yang ada di dunia, dan dianggap sebagai landmark dari teknologi kebanggaan Skotlandia.





Roda Falkirk berdiameter 35 meter menghubungkan Kanal Forth dan Clyde dengan Union Canal, yang sebelumnya dihubungkan oleh serangkaian sebelas kunci air yang turun dalam jarak-jarak 1,5 km. Tapi semua itu telah dibongkar pada tahun 1933, karena dianggap kurang efisien dan menghalangi jalur.

Lalu diputuskan bahwa pengangkatan kapal lautlah yang diperlukan untuk menghubungkan dua saluran air yang berbeda ketinggian. Sempat diajukan untuk konsep Waterways di Inggris, namun sepertinya pemerintah Inggris tidak tertarik pada metode ini.

Akhirnya mereka memutuskan untuk membuat landmark struktur abad ke-21 yang dramatis di Skotlandia. Hasilnya, struktur sempurna dan seimbang Roda Falkirk yang berhasil mengangkat kapal laut pertama di dunia dengan cara berputar.

Kapal laut masuk ke salah satu gondola bersama dengan air yang terangkat lalu diputar bersama untuk sampai ke sungai yang ada di atas atau di bawahnya. Berat yang sama memungkinkan gondola untuk tetap seimbang dengan sempurna, sehingga jumlah energi yang dibutuhkan sangat kecil untuk memutar Roda.

Roda berputar hingga 180 derajat dalam 5,5 menit menggunakan hanya 1.5kW listrik, jumlah yang sama yang dibutuhkan untuk mendidihkan delapan ketel air.

Sebuah desain yang serupa dari lift kapal laut ini telah diusulkan untuk sebuah kanal baru yang akan berada di sepanjang Marston Vale di Bedfordshire. Lift akan menghubungkan Grand Union Canal di Milton Keynes dengan Sungai Besar Ouse di Bedford.

















Read more...